Refleksi Perjalanan Investasi Saham: Dari Keraguan ke Langkah Pertama

“Waktu terbaik untuk mulai berinvestasi saham adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.”

Kalimat bijak dari Liem Kheng Hong (LKH) ini selalu terngiang di benak saya. Meski beliau memulai investasi saham di usia 30 tahun—saat kondisi keuangannya belum ideal—kebiasaannya mengelola uang dengan disiplin dan berhemat memungkinkannya mengalokasikan dana lebih besar untuk saham. Bahkan setelah karirnya membaik, LKH tetap memprioritaskan saham dibanding instrumen lain seperti dolar, emas, atau properti.

Sebelum mengenal LKH, saya terinspirasi oleh Andika Sutoro Putra, yang sudah terjun ke pasar modal sejak usia 15 tahun. Lahir di 1994 (kini sekitar 30 tahun), Andika menunjukkan bahwa kesuksesan di saham bisa diraih sejak muda. Sementara saya, di usia yang sama saat mulai menulis ini, baru menyadari pentingnya investasi saham—mirip seperti LKH yang memulai di usia 30.

Dari Ketertarikan ke Kebingungan

Sejak lama, saya ingin masuk ke saham, tapi informasi yang dominan saya temui adalah tentang trading. Sayangnya, saya tidak tertarik karena trading terasa spekulatif—meski menggunakan analisis teknikal, nuansanya masih seperti judi (gharar). Ini murni preferensi pribadi.

Pandangan saya berubah setelah menonton video Andika Sutoro Putra. Ia memperkenalkan dimensi lain dari saham: investasi jangka panjang dengan manajemen keuangan yang terencana. Dalam salah satu videonya, Andika memamerkan dua asistennya (kakak-beradik) yang berhasil membeli BMW berkat konsistensi berinvestasi. Bagi saya, yang menarik bukan mobilnya, tapi disiplin mereka menunda kesenangan untuk mencapai tujuan finansial.

Belajar dari Para Ahli

Rasa penasaran membawa saya menjelajahi berbagai sumber:

  1. Blog Zomi Wijaya (zomiwijaya.com): Kontennya mudah dicerna untuk pemula seperti saya.
  2. Teguh Hidayat (teguhhidayat.com): Analis yang rutin berbagi ilmu lewat tulisan dan YouTube. Salah satu video menariknya adalah wawancara dengan Joeliardi Sunendar, sesepuh pasar modal Indonesia.
  3. Buku Referensi:
  • Anak Muda Miliarder Saham (Andika Sutoro Putra)
  • Value Investing: Beat The Market in Five Minutes! (Teguh Hidayat)
  • Cara Simpel Berinvestasi di Pasar Modal (Joeliardi Sunendar)
  • Investasi Saham Ala Fundamental Dunia (Ryan Filbert)

Langkah Pertama yang Tertunda

Setahun lalu, saya sudah membuat akun Stockbit dan hampir membuka rekening sekuritas Sinarmas. Namun, syarat deposit Rp5 juta membuat saya mengurungkan niat—saat itu, pengetahuan saya tentang saham masih nol.

Akhirnya, pada 28 November 2019, saya memberanikan diri mengirim dokumen pendaftaran akun sekuritas dan Rekening Dana Nasabah (RDN) ke Stockbit. Dua minggu kemudian, akun saya aktif, tapi proses RDN membutuhkan waktu 3-5 hari kerja.

Mempersiapkan Mental dan Modal

Sambil menunggu, saya memperdalam ilmu lewat buku-buku di atas. Prinsip Warren Buffett menjadi pegangan:

  1. “Never lose money.”
  2. “Risk comes from not knowing what you’re doing.”

Meski terbiasa mengambil risiko tinggi, saya memutuskan untuk memulai sebagai investor konservatif. Dengan modal Rp5 juta, saya siap belajar sambil praktik—lambat tapi pasti.

Harapan ke Depan

Ini adalah catatan awal perjalanan investasi saya. Semoga Allah memudahkan langkah ini dan menjauhkan dari keputusan yang merugikan.

Pesan Utama:

  • Mulai sekarang, tidak peduli seberapa kecil modalnya.
  • Disiplin dan konsistensi lebih penting daripada kecepatan.
  • Investasi bukan tentang cepat kaya, tapi tentang kebebasan finansial di masa depan.

Bagaimana pengalaman Anda memulai investasi saham? Mari berdiskusi! 🚀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *